Ribuan Honorer Pada Akhirnya Harus Menerima Nasib Gigit Jari


harga velg mobil

harga velg mobil

Menurut harga velg mobil pembukaan pendaftaran CPNS yang dibuka hari ini oleh pemerintah, sekaligus membungkam kerinduan ribuan honorer untuk diangkat menjadi PNS. Slogan “kerja, kerja, kerja” seakan linier dengan rekrutmen puluhan ribu tenaga fresh graduate yang berebut kursi empuk di berbagai lembaga pemerintahan.

Bagaimana tidak, mempekerjakan mereka yang masih fresh, baru lulus, dan baru mengenal dunia kerja akan lebih mudah dilecut tanpa mengeluh dan bahkan berlomba-lomba meniti jabatan tertinggi tak peduli rekan-rekan mereka yang menanti harus gigit jari.

Ibarat perusahaan besar yang “membuang” para pekerja seniornya secara perlahan karena sudah tak lagi produktif, merekrut tenaga muda yang fresh jelas merupakan pilihan menguntungkan dan murah dari sisi ongkos produksi.

Entah apa alasan pemerintah menjanjikan berbagai hal kepada para honorer, termasuk kategorisasi tenaga honorer yang berubah-ubah.

Ada istilah K2, PTT (Pegawai Tidak Tetap), Honorer, atau PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak) seakan terus dipekerjakan dengan harapan yang panjang mendapatkan titel “PNS”.

Kawan-kawan saya yang menjadi guru non-PNS atau honorer di KUA, bahkan Penyuluh Honorer dibawah lingkungan Kementrian Agama senantiasa bertanya dan tak jarang mengeluh, kapan mereka diangkat menjadi PNS.

Pengabdian mereka kepada negara dengan membantu banyak pekerjaan para PNS lainnya yang terkadang “kurang cakap” sudah lebih dari belasan tahun, namun nasib mereka tetap saja honorer ditengah beberapa kali pergantian rezim.

Nasib para honorer rasanya sudah diujung tanduk, tinggal menunggu keteguhan hati mereka saja, mau lanjut dan pasrah menjadi honorer atau keluar mencari pekerjaan lain. Sebuah dilema kehidupan bangsa ini yang sungguh berat, ditengah lahan mata pencaharian yang tidak mudah.

Menjadi honorer di beberapa lembaga pemerintahan tertentu mungkin saja dihargai secara layak, walaupun ada yang bagi saya terkesan sangat tidak manusiawi.

Bagaimana tidak, honor yang mereka terima perbulan hanya Rp 300.000 saya rasa tak dapat mencukupi apa-apa terlebih harus dibebani dengan biaya hidup lainnya, seperti anak, istri, bahkan cicilan rumah atau bayar sewa kontrakan.

Tragis memang, jika melihat wajah para honorer yang berkeluh kesah, murung, sedih, bahkan tak jarang mereka tumpahkan asanya di jalanan. Puluhan tahun mengabdi hanya gigit jari, mendapatkan gaji yang jauh dari angka sejahtera, bertolak belakang dengan estimasi turunnya angka kemiskinan versi pemerintah yang belakangan dibela habis-habisan.

Para honorer adalah pekerja nyata, membantu segala kebutuhan apapun bahkan serba bisa. Tak jarang, para honorer lebih gigih, cerdas, dan cekatan dibanding pekerja lainnya yang berlabel PNS. Bahkan, demi ingin menunjukkan keseriusannya mengabdi, tanpa ada perintah, para honorer sudah datang lebih awal dan mengerjakan hampir seluruh pekerjaan yang bukan beban jabatannya sebagai honorer.

Lalu, bagaimana sejatinya nasib ribuan pekerja honorer ditengah antusiasme para fresh graduate memburu kursi lowongan PNS yang baru dibuka hari ini? Ya, tetap gigit jari.

Mengingat alokasi pengangkatan honorer belum tertuang dalam berbagai aturan ke-PNS-an pasca 5 tahun moratorium. Padahal, masa moratorium semestinya dapat dilakukan untuk mengangkat para honorer yang telah bekerja puluhan tahun secara bertahap, sehingga tak menjadi konsumsi politik seperti saat ini.

Nanti, jangan-jangan ada Capres-Cawapres yang menjanjikan pengangkatan para honorer dengan syarat mereka mau memilih mereka. Kalau ada, ini sudah kelewatan, jika soal honorer saja dimanfaatkan menjadi ajang komoditas politik! Saya berjuang dengan para honorer, semoga pihak pemerintah mau jujur dan membuka mata, betapa pengabdian mereka itu tulus dan ikhlas demi nusa dan bangsa!